

Meriah, begitulah kesan pertama melihat pria yang satu ini. 26 tahun yang lalu tepatnya 21 November 1984 Ia dilahirkan. Pemilik nama lengkap Muchlisan Putra, S. Pd. ini ternyata penggemar warna merah. Tak sah rasanya jika barang-barang yang dibelinya atau melekat pada tubuhnya tak ada unsur merahnya. Menurut Sang Bunda yang merawatnya sejak kecil, Ukis, begitu Ia akrab disapa, adalah anak yang cerdas dan usil. Bangku TK hanya Ia tempati selama 3 hari saja, kemudian Ia berontak dengan menangis kepada sang bunda meminta untuk segera dipindahkan ke bangku SD. Menurutnya, TK hanyalah membuang-buang waktunya saja dengan kegiatan bernyanyi dan melipat-lipat kertas yang sudah lebih dahulu dikuasainya sebelum TK, karena memang untuk hal yang satu ini (menyanyi dan melipat kertas, Ukis memang jagonya dibanding teman kecil lainnya).
Anak kelima dari enam bersaudara ini lahir dan besar di kota Sigli, tepatnya di Gampong Blok Sawah Kecamatan Kota Sigli Kabupaten Pidie Provinsi Aceh. Sejak kecil Ia memiliki cita-cita menjadi pendidik dan pengajar. Terkesan dengan salah seorang gurunya yang cukup santun dalam mengajarkannya ilmu agama ketika Ia masih SD. Ustadz Irwan namanya, ustadz yang telah membuatnya menemukan jatidirinya hingga kini. Ustadz Irwan adalah salah seorang guru yang selalu Ia jadikan tauladan. Ketika teman-temannya yang SD belum bisa membaca Quran, Ukis, telah mampu membaca Quran tingkat dewasa (Quran besar) bahkan beberapa waktu dipercayakan mewakili Kabupaten Pidie untuk mengikuti event-event nasional dalam musabaqah. Ustadz Irwan bagi Ukis adalah sosok yang telah menyelamatkan masa mudanya menjadi lebih bermakna. Bukan hanya mengajarkan mengaji, tapi lebih jauh dari itu, tauladan yang diberikan sang ustadz menjadi bekal dan selalu Ukis jadikan panutan hingga kini.
SD Inpres Blok Sawah, SMP Negeri 1 Sigli dan SMA negeri 1 Sigli adalah tempat Ukis menghabiskan 12 tahun wajib belajarnya. Sejak SMP, Ukis sudah aktif dalam berbagai kegiatan-kegiatan di sekolah maupun organisasi-organisasi ekternal lainnya. OSIS, Rohis dan segudang organisasi lainnya menjadi aktivitas rutinnya selain belajar. Ia pernah menjabat Ketua Rohis di SMA negeri 1 Sigli pada tahun 2001.
Selepas SMA, Ukis, sang penggemar sastra ini mencoba melamar kuliah di salah satu universitas negeri kebanggaan masyarakat Aceh dengan memilih jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Kecintaannya terhadap Bahasa dan Sastra telah dimulai sejak Ia aktif di OSIS dan Rohis SMA Negeri 1 Sigli dengan segudang kegiatan sastra termasuk Teater. Pertunjukan dan penampilan yang pernah mereka lakoni menjadi ajang bagi Ukis untuk mencoba memperdalamnya di bangku perkuliahan. Alhamdulillah, tahun 2002 Ukis diterima di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Dua tahun berjalan, kuliah terasa amat menyenangkan, dengan segudang aktivitas baik internal maupun eksternal kampus, Ukis juga sibuk dalam kegiatan-kegiatan di sanggar sastra dan group seni nasyid Islami yang mereka bentuk di kampus kebanggaan rakyat Aceh tersebut. Tak tanggung-tanggung, grup seni nasyid yang digelutinya bersama keempat rekannya di bawah naungan Belia Production menghantarkan mereka menjadi salah satu grup nasyid terfavorit pada festival nasyid se-Indonesia di Universitas Bung Hatta Sumatera Barat tahun 2003.
Di Kampus, selain belajar dan berusaha menghabiskan SKS demi SKS, Ukis pun aktif di berbagai lembaga-lembaga mahasiswa seperti BEM, DPM dan Unit Kegiatan Mahasiswa lainnya. Sehingga pada tahun 2003 Ukis dipercaya menjadi salah seorang mahasiswa yang mewakili kampus Unsyiah untuk mengikuti Pertemuan Mahasiswa Se- Indonesia di Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung. Kepercayaan ini membuat Ukis semakin bersyukur atas nikmat yang diberikan Tuhan kepadanya. “Ternyata organisasi punya peran penting dan andil besar untuk membuat kita menjadi ‘orang’ seutuhnya,” begitu pesan singkat Pak Ukis ketika memberikan sambutan mewakili panitia kepada para peserta ‘Achievement Motivation Training’ yang dilaksanakan oleh Alumni SMA Negeri 1 Sigli beberapa waktu yang lalu di Aula SMA negeri 1 Sigli karena Pak Ukis juga aktif dalam paguyuban-paguyuban alumni di sekolahnya dan kampungnya.
26 Desember 2004 mempunyai begitu banyak memori yang tak dapat dilupakan oleh pak guru yang satu ini. Ada cerita yang megharukan ketika gempa dahsyat dan gelombang tsunami yang meluluhlantakkan Aceh tercinta. Saat itu, dua hari menjelang musibah dahsyat, tepatnya Jumat 24 Desember 2004, Ayahanda dari Pak Ukis menjemputnya untuk pulang ke kampung halaman tercinta di Sigli. Baihaqi, salah seorang teman ‘sebantal’ yang cukup setia mendampingi Ukis, Jumat itu mengabari ke kampung halaman bahwa Ukis minta dijemput karena sakit yang dideritanya, beliau mengabarkan bahwa seminggu sudah Ukis mereka rawat seadaanya di kost mereka. Takdir memang telah digariskan oleh Allah swt. Baihaqi, teman yang cukup setia mendampingi Ukis ketika Ia sakit dan mengabari berita sakitnya Ukis ke kampung halaman, meninggal dunia sebagai syuhada tsunami dua hari setelah Ukis dijemput oleh ayahnya. “Tak kuat hati ini mengenang temanku yang baik itu, andai saja ayahku tak menjemputku saat itu, mungkin aku bersamanya ‘disana’,” kenang Ukis dengan mata berkaca-kaca.
Badai Pasti Berlalu, Ukis yang saat itu hampir putus semangat akibat trauma yang mendalam karena kehilangan orang-orang yang dicintainya, termasuk guru-guru dan dosen-dosennya, mencoba bangkit dari musibah itu. Tsunami telah berlalu, Aceh mulai bangkit. Bantuan mengalir deras dari masyarakat internasional, NGO dan lembaga-lembaga lokal maupun asing. Bagi Ukis ini adalah berkah bagi Aceh yang dulunya tertinggal kini bisa berubah menjadi lebih baik.
Pak Ukis, guru yang sangat gemar mengoleksi topi ini, sempat menceritakan sedikit banyak pengalaman-pengalaman kerjanya. Pada tahun 2006 beliau dipercayakan menjadi supervisor untuk program Badan Amil Zakat Nasional dalam penanganan anak-anak yatim Aceh untuk wilayah Pidie. Beliau juga menjadi guru dalam menangani pembinaan anak-anak yatim Orphan Kafala Program yang didanai oleh Islamic Development Bank bekerjasama dengan Bank Muamalat Indonesia. Kecintaannya terhadap dunia pendidikan dan anak-anak juga menginspirasi dirinya untuk membentuk sebuah Yayasan Pendidikan Islam yang diberi nama Yayasan Aluswah di Kab. Pidie yang hingga kini masih aktif dan concern terhadap pembinaan anak usia dini dalam mencetak tunas bangsa terbaik untuk agama dan Negara.
Pada tahun 2009 untuk pertama kalinya Pak Ukis dikenalkan dengan Sekolah Sukma Bangsa Pidie oleh seorang teman kuliahnya di Unsyiah yang juga mantan guru Sekolah Sukma Bangsa Pidie. Pak Ukis menjadi salah seorang Sumber Daya Kependidikan Sekolah Sukma Bangsa Pidie sejak 2009 hingga kini untuk bidang studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Beliau juga dipercayakan menjadi Pembina OSIS dan beberapa kegiatan ekskul seni di Sekolah Sukma Bangsa Pidie. Bekerja di Sekolah Sukma Bangsa Pidie merupakan pengalaman yang cukup menyenangkan bagi Pak Ukis. Murid-murid yang ‘luar biasa’ sampai teman-teman sekantor yang juga ‘gila dan asyik’ menjadikan ikatan itu semakin kokoh.
Pak Ukis yang memiliki motto hidup “Berjuang Dalam Satu Barisan Seumpama Ikatan Yang Dahsyat” itu juga berpesan kepada para siswa, pemuda generasi penerus bangsa dimanapun berada untuk senantiasa belajar, belajar dan belajar. Belajar untuk kemajuan bangsa dan negara serta agama. Awali dari diri sendiri, dari yang paling kecil dan mulai dari sekarang.
Diakhir wawancara, Pak Ukis yang baru delapan bulan menikah ini juga memohon doa restu kepada para siswa dan segenap rekan-rekan untuk mendoakannya, karena dalam waktu dekat insya Allah akan dipercayakan oleh Allah menjadi seorang ‘BAPAK’ yang sebenarnya. Bapak bagi anak yang sedang dikandung oleh istrinya. Semoga… Amien
Mon, 25 Apr 2011 @15:22pacok |